ROBOT KARYA TEKNIK NUKLIR 2005
Sumber : Kompas
Bagi Dimas, Andhika, Dhani, dan Deni, membuat robot tak harus mahal. Inilah kiat yang mereka jadingan pegangan untuk mengikuti Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) 2005 kelas expert yang diadakan di Balairung UI, Sabtu (14/5), secara mandiri alias tanpa bantuan dana dari panitia. Untuk membuat sebuah robot yang diberi nama Akantrak, mereka cukup merogoh kocek sebesar Rp 300 ribu.
Ongkos yang paling besar adalah komponen motor yang membuat robot dapat bergerak. Untuk yang bekas pakai saja, harganya mencapai Rp 100 ribu. Robot itu menggunakan tiga mikroprocessor MCS 51 seri 89C51 yang masing-masing seharga Rp 10 ribu. Sementara sisa dana yang lain digunakan untuk membeli tabung alumunium, kabel, dan peralatan elektronika lainnya di pasar barang bekas.
Meskipun terbuat dari komponen-komponen bekas, desain robot Akantrak tidak asal jadi. Dhani dan kawan-kawan mengklaim bahwa robotnya mampu berjalan pada tanjakan hingga 45 derajat dan secara teori dapat berjalan cepat karena menggunakan rantai, bukan roda seperti yang digunakan sebagian besar tim yang lain. Sehingga bentuk robot tersebut lebih mirip tank daripada mobil atau kendaraan beroda sejenisnya.
Untuk memadamkan api, digunakan tabung alumunium berdiameter satu centimeter yang diisi bahan peledak low explosive, seperti yang biasa dipakai pada mercon, untuk mendorong air yang diiisi pada tabung di depannya. Kebutulan Deni adalah mahasiswa teknik nuklir Universitas Gajah mada (UGM) yang sangat memahami teknik peledakan. Sementara Andhika dan Dhani, keduanya sama-sama mahasiswa D3 Instrumentasi UGM, bertanggung jawab merangkai sensor dan komponen elektronika.
Dimas, mahasiswa Teknik Informatika, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah yang kebetulan satu SMA dengan Deni, diajak untuk membantu pemrograman bahasa Assembly, bahasa komputer yang digunakan untuk memprogram mikroprocessor. Jarak Jogjakarta-Jakarta tak menjadi halangan bagi mereka untuk berkolaborasi melalui email dan telepon.
Keikutsertaan Akantrak tidak diperhitungkan sebelumnya. Dhani mengakui bahwa proposal pembuatan robot dikirimkan tepat batas pengiriman cap pos yang ditetapkan panitia. Keberhasilan Akantrak masuk sebagai nominator saja sudah lebih dari cukup.
Target yang diharapkan oleh Dhani dan kawan-kawan adalah proses belajar. Paling tidak dengan mengikuti lomba tersebut, pengetahuannya bertambah terutama dalam penggunaan komponen dan teknologi yang tepat.
Robot Murah
Strategi yang mereka terapkan adalah memilih komponen-komponen yang murah. Misalnya dalam pemilihan processor, digunakan 89C51. Selain murah, MCS 51 seri C lebih mudah di di-flash (diisi program) melalui rangkaian sederhana yang terpasang pada alat. Untuk mengisi program di mikroprocessor seri yang lain, biasanya dibutuhkan flash downloader yang harganya sekitar Rp300 ribu.
Sensor infrared yang digunakan untuk mendeteksi adanya dinding di kanan kiri robot diambil dari remote TV bekas yang masih berfungsi. Sedangkan sensor cahaya untuk mendeteksi api, diambil dari mouse optikal. Rantai untuk berjalan juga dibeli dari pasar loakan di sekitar pasar Beringharjo, Jogjakarta.
Sayang mereka gagal mempertunjukkan kinerja yang baik padahal penonton sudah penasaran ingin melihat kemampuannya. Dalam presentasi, robot tersebut tidak mampu berjalan sesuai harapan. Sekali menabrak dinding, tiba-tiba program yang didalamnya reset (mati) karena terdapat kabel yang konslet. Padahal sebelum dibawa ke Jakarta, robot tersebut dapat bekerja dengan baik.
“Kemungkinan ada kabel rangkaian yang terhubung singkat akibat goyangan selama perjalanan Jogjakarta-Jakarta karena kami harus membongkar pasang komponen agar tidak riskan jika dibawa dalam keadaan utuh,” kata Dhani.
Meskipun demikian hadirnya Akantrak sebagai bukti bahwa membuat robot tak harus mahal. Kemauan dan percaya diri tim pembuat Akantrak patut ditiru. (Wah)

Robot Akantrak terbuat dari bahan-bahan bekas
